Ahza dan Cerita Sebelum Tidur

Sampai saat ini salahsatu kebiasaan Ahza dari kecil yang masih berlanjut adalah mendengarkan mamanya bercerita sebelum tidur, cerita apa saja, biasanya Ahza lebih menyukai cerita sejarah dibanding dongeng. Seiring bertambahnya umur dan dewasa kali ya.

Biasanya sehabis gosok gigi, kata-kata mantra Ahza adalah ” Mama cerita…” walaupun mata udah merem tetep aja masih ingat emaknya belum cerita. Kalo mama kex

Cerita terakhir yang masih ditagih Ahza adalah kisah Buya Hamka. Buya  sebagai ulama, tokoh maupun sebagai sastrawan. Masih hutang buku yang bisa dibaca Ahza tentang Buya Hamka. Karena ahza biasanya akan tambah semangat baca buku jika sebelumnya diceritakan.

Kemaren Ahza minta diceritakan tentang negri Palestina. Kenapa disana selalu terjadi perang. Terus apa yang dimaksud perang dan penjajahan. Kenapa ada orang yang suka menjajah dan berperang, kan mereka tahu itu tidak baik dan menimbulkan korban jiwa.

Hari ini Ahza ada acara mabit pesantren kilat di sekolahnya. Terasa sepiii tanpa ada yang mendengar cerita hehehehe.

Iklan

Reya “Sekolah”

Pertama kali menyadari Andreya belum lancar berkomunikasi dari umurnya sekitar 18 bulan. Saat dokter anak langganan kami menanyakan apakah Andreya sudah bisa menanyakan sudah berapa suku kata yang mampu diucapkan Andreya. Bagian tubuh apa saja yang bisa disebutkannya begitu juga nama binatang.

Sampai umur 20 bulan, Andreya belum mau menyebutkan nama anggota tubuhnya, smua yang ditanya jawabnya selalu nunjuk ke pipi sambil senyum nakal.

Kami masih menganggap itu hal biasa, mungkin telat biasa saja atau gara- gara gadget atau kebiasaan nonton video yang bahasanya campur. Kadang ya Indonesia kadang ya Inggris kadang arab apalagi setelah kena wabah film Masha and the Bear nambah satu lagi deh bahasa yang disuguhkan ke Andreya, bahasa Rusia.

Saya dan suami menganggap paling ya dengan stimulus yang lebih sering Andreya lama-lama juga bisa jadi kami bawa santai saja.

Sampai diumur Reya masuk  22 bulan  ini,  memang kelihatan Reya sedikit “berbeda”. Kata yang baru bisa diucapkan adalah :  kaka, papa dan dada. Dan semua kata tersebut dipakai untuk semua benda.

Reya cuek tidak menghiraukan kata perintah ataupun cerita. Diajak baca buku yaa dibuang, diajak ngomong selalu menghindari tatap mata dan maunya segera kabur saja semau dirinya saja.

Tapi uniknya dia akan menurut jika apa yang kita katakan itu menguntungkan buat dia… misalnya diajak jalan-jalan dan kita bilang,

” Reya mama mau pergi ya… dadaa.” Langsung semangat deh tuh mengejar kita. Andreya paling senang diajak jalan-jalan.
Atau seperti ” Reya ini susu…” lansung  dia mendekat.

Andreya faham kata larangan. Saat kita larang melakukan sesuatu maka Andreya akan tutup mata tanda kecewa dilarang. Ataupun kalo kita sedih karna Reya berbuat salah. Misalnya, ” mama sediiih Reya pukul-pukul mama” langsung deh Andreya meluk kita sambil mengelus punggung.

Andreya bisa memperlihatkan rasa takutnya jika di tv ada monkey. Andreya akan buru-buru sembunyi tapi tetap mengintip  dibalik tangannya.

Ketika berkunjung dokter anak untuk imunisasi booster. Dokter mengamati Andreya dan mencoba untuk berkomunikasi, dan memang Andreya asik sendiri dan tidak sedikitpun mengacuhkan Saya ataupun dokternya yang mencoba berinteraksi,  dokterpun menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak.

Kebetulan di RS. Hermina Ciputat  sudah tersedia klinik tumbuh kembang. Dari hasil observasi motorik halus dan kasarnya menunjukkan perkembangan sangat bagus. Dilihat dari Andreya yang mampu menyusun balok dengan rapi dan teratur juga menyusun puzzle dengan baik, cara dia memanjat, melompat dan mengontrol keseimbangan tubuh. Namun Andreya bermasalah dalam berkomunikasi.

Salahsatu penyebabnya bisa karena Andreya jarang melakukan tatap mata sehingga kata-kata yang disampaikan kepadanya tidak diproses dengan baik. Bisa jadi semua kata tersebut sudah tersimpan di otaknya dan memerlukan kunci untuk membuka “kotak rahasia” yang berisi perbendaharaan katanya. Sehingga dibutuhkan stimulus yang lebih. Salah satunya dengan terapi wicara dan sensor integrasi. Dibarengi dengan stimulus yang terus-menerus di rumah. Kasus Andreya ini biasa disebut Attention Defisit Disorder (ADD)

Terapi dilakukan selama 45 menit persesi. Lebih tepatnya sih bukan terapi ya… tapi lebih kepada bermain sambil belajar. “Andreya Sekolah”  kalo katanya Ahza.

Di kelas Terapi Wicara Andreya diobservasi struktur mulutnya, dan alhamdulillah normal. Karna struktur mulut yang tidak normal bisa menyebabkan masalah di cara makan juga berbicara. Hari pertama nangis tidak berhenti dan mencari mamanya karna memang Andreya biasanya tidak nyaman bertemu dengan orang dewasa baru. Beda jika bertemu dengan anak seusianya Andreya akan senang dan selalu agresif memulai pertemanan.

Disini Andreya diminta untuk mengulangi kata yang di sebutkan om terapisnya. Teteep aja ga mau, maunya pulang. Sampai di pertemuan ke-2 terapi wicara terpaksalah mama mendampingi di kelasnya.
Dan suprise loo Andreya mau nurut sama om terapisnya dan mau mengulangi kata yang disampaikan dengan menatap mata walau dari 20x percobaan cuma 3 yang berhasil diikuti, sisanya Andreya malu-malu campur malas dan cuek blas.

Di ruang terapi sensor integrasi lebih kepada kegiatan fisik dan melatih fokus konsentrasinya. Memang di umur belum genap 2 tahun anak-anak belum terlalu fokus apalagi konsentrasi. Tapi jika memang dari awal sudah terdeteksi tidak fokus dan gangguan konsentrasi tidak ada salahnya diarahkan dan dilatih sehingga pada kemampuannya sesuai dengan usianya.

Ada beberapa teman menanyakan dan berkomentar,   ; “kok diterapi emang anakmu kenapa?”. ” bukannya seumur gitu biasa telat bicara?”. ” Emaknya niih yang malas ngajak ngobrol”. dan lainnya

Sampai suatu saat ada temen yang japri dan menanyakan kenapa Andreya diterapi dan ternyata temen ini adalah terapis anak-anak berkebutuhan khusus. Dan dukungannya bisa melegakanku. Semakin anak terdeteksi diusia dini dan lansung ditangani hasilnya akan semakin bagus.

Hari ini adalah sesi ke 4 dari keseluruhan sesi andreya yang diperkirakan selama 3 bulan “sekolah” Andreya sudah mau bicara sambil menatap mata kita walaupun yang disampaikan adalah ocehan yang belum jelas maksudnya.

Setiap orang yang ditemui akan dilambaikan tangan sambil menyebut kata “dada dada” dengan suara perut plus kissbyenya yang menggemaskan. Andreya sudah bisa menyebut “a” persis seperti yang diajarkan om terapisnya. Dan sudah mau diajak salaman.  Walaupun belum mau dipegang ataupun disentuh orang yang baru dikenal.

Semoga semakin kedepan Andreya bisa lancar berkomunikasi dan menyampaikan apa yang dikepalanya.

image