Curhat tentang Kucing

Tak ada yang salah dengan hobi piara kucing, apalagi kalo kucingnya dirawat dengan baik, bersih dan tidak dibiarkan menganggu orang lain. Tak semua orang penyuka binatang termasuk kucing.

Muslim yang baik juga tahu kok, kalau kucing itu piaraannya rosul kita Muhammad.(shollu wa salam alaihi). Tapi bukan berarti semua orang muslim harus hobi piara kucing kan?. Saya dan suami penyuka kucing tapi kami tahu kemampuan kami, tidak telaten terhadapĀ  hewan kesayangan, apalagi mas Andre sukanya rumah rapi, bersih dan wangi. Jadi cukuplah hanya menjadi penikmat kucing-kucing tetangga, saudara atau teman.

Ahza dan Reya sebenarnya pecinta kucing entah berapa kali Ahza minta kami merawat kucing, begitu juga Reya sering banget main dengan kucing tetangga hingga rumah kami malah kadang jadi penuh dengan kucing.

Masalahnya adalah, jika yang punya kucing tidak mau tahu akan perawatan kucingnya. Senengnya ya cuma elus-elus dan peluk-peluk doang, cuma tau ngasih makan. Tapi tak mau tahu kalau kucingnya membuat orang sekitarnya terganggu. Baca lebih lanjut

Iklan

Terasa Dekat

Entah berapa kali kami dianjurkan untuk membuat wasiat, pesan ini itu saat keberangkatan haji kami tahun lalu. Dan sebanyak itu pula hatiku menolak dan semua anjuran itupun kami abaikan. Sungguh satu keyakinan kami saat itu adalah, Allah akan memberikan keselamatan perjalanan kami danĀ  akan kembali ke tanah air dengan sehat selamat.

Dalam fikiranku saat itu toh ini bukan perjalanan terjauh kami. rasanya aroma tanah, udara dan air dan semilir angin Ciputat selalu bersamaku. Dan Allah pasti menghantarkan kami kembali ke Ciputat tuk memeluk anak-anak, orangtua, kerabat dan sahabat yang di tanah air.

Namun sungguh, saat berada di di Masjidil Haram kematian itu terasa dekat, sangat dekaat, setiap imam memanggil untuk sholat jenazah, dan saat itupula hati ini bergetar… apakah kami sudah siap?. Airmata tak kunjung berhenti mengalir mengingat betapa minimnya persiapan kami untuk “kembali”.Karna tak ada satupun peringatan kapan jadwal manusia akan “dijemput” dan malaikat izrail tak pernah menyapa dulu sebelum mencabut nyawa.

Suatu ketika kami melaksanakan thawaf sunnah diantara beribu manusia yang berjubel dilantai dasar masjidil haram, tidak ada lagi waktu sepi tuk berthawaf, selalu saja penuh karna mengingat masa wukuf Arafah semakin dekat. Posisi saat mendekat hajar aswad atau starting point thawaf adalah posisi yang penuh perjuangan. Saat itu aku merasakan yang namanya nafas satu-satu dan serasa mau putus. tubuh rasanya tak sanggup lagi berada diantara desakan beribu manusia, berharganya nafas sungguh aku rasakan. Saat itu semua kemungkinan melayang didepan mataku, rasanya malaikat izrail memanggil-manggil tuk mendekatinya, wajah Ahza dan Andreya yang menari-nari di pelupuk mata dan lambaian tangan orangtua kami di kampung halaman, semuaa menjadi satu dengan bayangan syurga neraka di pelupuk mata. Semua bacaan saat thawaf semakin kencang ingin kulafalkan, semakin besar keinginan tuk melafalkan keras-keras, semakin kuat tersekat suara ini ditenggorokkan. Baca lebih lanjut