Pesan dari Sambu (Review Buku)

Janjian dan menunggu lama buanget di mall tanpa membawa bekal bacaan dan Hp yang mati mendadak adalah sesuatuuu yang bener-bener ga asik. Apalagi mall-nya sebesar itu tanpa ada satupun yang menjual bacaan, bacaan lo ya, apalagi buku. Ngiderin mall 4 lantai dari ujung ke ujung yang tersedia hanya fashion, makanan dan makanan lagi.

Sampai akhirnya haus-pun terasa, sehingga terdampar di toko obat yang menyediakan air minum murah meriah namun sehat, Dan taraaaaa… tepaat di hadapannya ada toko organizer yang juga menyediakan buku, ga banyak siih cuma dikiiit buku yang terpajang. Tapi rasanya bagaikan mendapatkan air digurun tandus. Buku-buku disana umumnya buku-buku sale. Dari awal mencari bacaan tak ada satupun buku di rak yang menarik minat saya. yang menarik hanyalah bermacam perangkat prakarya untuk anak-anak. yaah maklum emak-emak yaa..suka ga fokus, niat beli buku akhirnya jadi beli yang lain.

Di kasir ada setumpukan buku yang dijual murah, sepuluh ribuaaan… aiih, lumayan nih buat ngisi waktu. Dan mata tertumbuk pada buku PESAN dari SAMBU. penasaran doong Sambu itu apa, dimana dan bagaimana ?? pas baca sinopsisnya tak ragu lagi langsung buku ini menjadi pilihan tuk mengisi waktu janjian 1.5 jam kedepan. dan harganya 25 ribu, bukan sepuluh ribu hehehe.

Pesan dari Sambu sangat menarik, mungkin belum banyak yang mengenal pulau Sambu, salahsatunya ya saya. sehingga saat membaca buku ini langsung nanya-nanya ke tante Google tentang pulau Sambu. Ada kecewa dan sedih ternyata pulau tersebut sekarang hanya menjadi salahsatu saksi sejarah kejayaan masa lalu eksplorasi minyak di Indonesia. Pulau kecil yang hanya seluas1.5 km ini dulu pernah menjadi kebanggaan penduduknya dan berjaya di masanya. namun coba sekarang ditanya.. mungkin dari 20 orang indonesia hanya 3 yang tahu tentang pulau ini. xixixi sok-sok main statistik euuy.. yaah begitulah kira-kira.

Sesuai dengan judulnya, kisah di buku ini syarat akan pesan tentang nilai kasih dan cinta dalam keluarga, hubungan ayah, ibu dan Anak yang diperkaya sejarah, kebudayaan, keindahan alam serta masa jaya Pulau Sambu sebagai salahsatu depot kilang minyak Indonesia dahulu kala. mengingatkan saya pada kisah Andrea Hirata lewat Laskar Pelangi-nya tentang tambang timah Belitong, bedanya pulau Sambu ini adalah pulau yang memang sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh Belanda sebagai penampungan minyak yang dikirim dari berbagai daerah pengeboran di Indonesia sekitar tahun 1820-an dan habis masa kejayaanya pada tahun 1995an. Sedangkan Belitong adalah daerah yang memiliki penduduk asli, dimana kekayaan timahnya abis dikeruk perusahaan-perusahaan tambang. Dan kesamaan keduanya adalah meninggalkan kepedihan pada penduduknya, walaupun di Sambu pendatang dan Belitong adalah penduduk asli.

Penduduk pulau Sambu adalah para karyawan yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan menciptakan budaya baru di Sambu. Sehingga mereka menjadi kebingunan identitas diri. Jawa tidak, Sunda pun tidak, Melayu separoh, di bilang orang Indonesia tapi lagu Indonesia rayapun tak kenal. lebih kenal film hollywood dibanding film nasional, lebih akrab dengan Singapura dibanding Jakarta yang memang hanya selemparan batu dari Sambu.

Kisahnya berlatar belakang waktu dimasa 1950an, di masa-masa kemerdekaan baru direbut, dimana konflik Indonesia Malaysia sedang hangat-hangatnya, dan sedikit flashback ke masa-masa perang dunia ke-2. menjadi menarik karena penulis menceritakannya dengan bahasa yang mengalir indah dan konstan membuat pembaca penasaran dengan akhir cerita tanpa mau melewatkan sedikitpun bab demi bab dibuku ini.

Dikisahkan tokoh Mimi, anak ke-3 di keluarganya namun mendapatkan tugas terbesar mengurus 7 adik-adiknya yang tiap tahun lahir, kerja keras dan tanggung jawab yang berat diberikan ke anak berumur 13 tahun menjadi konflik yang dibumbui pernak-pernik kisah rumahtangga, persahabatan, kisah-kasih remaja dan latar belakang sejarah yang ditulis apik dan menarik, rupa-rupa perasaan pembaca mampu diaduk-aduk penulis.

Pulau Sambu yang indah dan ditata teratur layaknya kota mungil nan modern, komplek karyawan perusahaan minyak Belanda, Shell menjadi bagian yang membuat penasaran, bagaimana rupanya pulau itu dulu dan sekarang. Pada zaman perang kemerdekaan saja pulau ini sudah mengenal yang namanya pengelolaan limbah rumahtangga yang baik berkat bimbingan perusahaan.

Bagiku, ini adalah satu buku favorite, tapi sayang saat dilihat di halaman depannya, ternyata buku sebagus ini baru 2x cetakan. dan cetakan pertama pada tahun 2010. apakah kurang promosi atau apa, entahlah. atau seleraku saja yang suka sejarah.

“Pesan dari Sambu” sangat menarik , mungkin belum banyak yang mengenal pulau Sambu, salahsatunya ya aku, sehingga saat membaca buku ini langsung nanya ke mbah Google tentang pulau Sambu. Ada kecewa dan sedih ternyata pulau tersebut sekarang hanya menjadi saksi sejarah kejayaan masa lalu eksplorasi minyak. Pulau kecil yang hanya seluas1.5 km ini dulu pernah menjadi kebanggaan penduduknya dan berjaya di masanya. Menjadi tempat strategis rebutan Inggris, Jepang, Belanda termasuk PKI di zaman tersebut.

Diceritakan bedasarkan kisah nyata yang semakin membuat buku ini menarik, konflik yang disuguhkan pun adalah kisah harian namun karena racikan tulisan penulisnya membuatnya jadi mengharu biru.

Kisah lengkapnya… silakan dibaca yaa bukunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s