Sekolah untuk Anakku

Siang ini bawa Ahza jalan-jalan sambil survey salah satu sekolah lanjutan pertama untuknya, waaah udah mau SMP aja nih bocah.. ceileeeh SMP, itu kan istilah dahulu kala.

Beberapa poin yang menjadi catatan bagus untukku setelah diskusi yang panjang lebar dan menyenangkan dari guru yang mendampingi survey kami.

1. Salah satu tujuan penting visi dan misi sekolah kami adalah akhlak lulusan kami, sehingga saat mereka dewasa kelak dan ibu-bapaknya menua tak akan terbetik sedikitpun niat mereka untuk memasukkan orang tua mereka ke panti jompo. walaupun di banyak negara maju sekarang panti jompo sudah keren dan tidak seperti yang kita bayangkan ya Bu. ” kata si bapak. Dan yang terbayang dimataku adalah saat kami, orangtuanya meninggal kelak semoga Anak laki-laki kamilah jadi imam sholat jenazah kami. Amiiin.

2. Memberikan kesempatan untuk anak berfikir secara mandiri.
Banyak orangtua tidak pernah memberikan celah, ruang dan waktu untuk anaknya berfikir sendiri, Sudahlah dari pagi sampai siang sekolah, sore les ini itu… eeeh malam masih saja diberikan guru private. Anak butuh belajar cara menyelesaikan masalahnya sendiri apapun hasilnya. Orangtua seringkali tidak sabar sehingga ingin cepat menyelesaikan semua permasalahan anak dengan memanggil guru bantu atau malah langsung bantu anak. betapa capeknya otak anak, pagi siang malam belajar dengan guruu terus. Kadang dalam kesendirian anak bisa berfikir lebih jernih, Disana dia akan belajar tentang dirinya.

Jangan heran kelak jika si anak sudah dewasa dan berumahtangga orangtua yang sudah jadi kakek atau nenek akan dibikin repot bagaimana memandikan cucu, memberi makan cucu dsb.

3. Ibu, adalah pendidik utama anaknya. Saat anak kembali dari sekolahnya saatnya anak kembali ke pelukan kasih sayang dan didikan ibunya.

=====

Beberapa catatan penting juga dari sekolah terdahulu yang ku survey adalah.. eheeem padahal ini adalah sekolah favorite idaman banyak ortu looo… catet yaa SEKOLAH IDAMAN ORANGTUA, dan belum tentu anak mau masuk kesana hehehe.

kebetulan salah seorang gurunya adalah teman baik saat sekolah dulu. Sengaja kudatangi untuk berkomunikasi banyak tentang sekolah tersebut dari mata si guru, Kalau dari mata orangtua maah semuanya baguuuus baguus dan bangga anaknya masuk disana.

1. Anak menjadikan sekolah adalah rumah pertamanya dan rumah sebenarnya adalah persinggahan, tanya kenapa?. Bayangkan dengan lokasi yang sangat jauh dari rumah mereka, anak harus berangkat kesekolah segera setelah sholat subuh telat sedikit bisa pagar sekolah sudah tertutup. Kembali kerumah setelah magrib. Terkadang jika banyak kegiatan seperti les ini itu, belum lagi yang sibuk organisasi, bisa sampai dirumah jam 9 malam bahkan tak jarang menginap dirumah teman. Dan sayangnya untuk bisa menjadi anak gaul diskolah tersebut yaa harus rajin-rajinlah ikut organisasi dan berkegiatan di sekolah.

Untuk orangtua yang mampu akan bela-belain sewa rumah atau apartemen bahkan beli apartemen atau rumah sehingga anak bisa nyaman dengan skolahnya. Dan berarti tinggal berjauhan dengan orangtuanya.. syukur-syukur orangtua bisa ikut tinggal bareng dengan si anak.

Yang menjadi fikiran saya, akan menjadi apaa pribadi anak ini kelak? usia belia begitu, baru menjelang puber kurang mendapatkan sentuhan didikan orangtua apalagi ibunya. hanya sekedar saja. Saya ngeri sendiri membayangkannya. entaahlah saya terkadang emang lebaay membayangkan anak-anak yang mandiri tanpa landasan yang kokoh. Kapan waktu si anak bisa berbagi kisah pejuang-pejuang hebat dengaan ibunya?, kapan si anak bisa bercerita tentang bacaan kesukaanya? kapan si anak bisa merasakan nikmatnya masakan ibunya? kapan si anak bisa bercengkerama dengan saudara-saudaranya jika saat kembali kerumah badan mereka sudah lelah?

belum lagi saya membayangkan apaa yang dimakan anak-anak itu sehari-hari? mengandalkan katering? jajanan dari siang sampai malam? haduuuh langsung berkunang-kunang mata ini membayangkannya.

Atau jangan-jangan beginilah zaman modern, orangtua nyaman-nyaman saja anaknya lebih banyak menghabiskan waktu dengan temaan-temannya. Dan tak akan heran si anak naksir lawan jenis, temannyalah jadi tempat curhatan pertamanya.

2. Di tengah diskusi sambil reuni kami, teman ini menyebutkan, Semua ada konsekuensinya. Sekolah (yang katanya) bagus juga harus ada pengorbanan dari semua fihak. Termasuk guru. Jangan bayangkan dengan sekolah yang setenar ini nasib guru juga sementerang masa depan murid-muridnya ya wid. hmmmm dan ini tidak sekali saya dengar dari teman guru yang mengajar disekolah favorite yang bayaran uang gedungnya wah dan sppnya mahhal. Seringkali Yayasan terlalu pelit untuk menaikkan gaji guru walau hanya seratus dua ratus ribu perbulan setelah bertahun-tahun tiada kenaikan gaji. Duuuh spicles mah kalo udah soal duit dan kebutuhan hidup.

Saat kita mempercayakan anak kita seharian di sekolah, pastikan apakah guru dan yang terlibat dalam mendidik anak kita bahagia dan tidak merasa ada kesenjangan yang berlebihan. Percayalah Pendidik yang bahagia akan melahirkan Murid yang bahagia pula. Saya yakiin seyakinnya, Guru sejati tidak pernah menilai materi sebagi imbalan.

Sebenarnya masih banyak yang menjadi pertimbangan saya untuk memilihkan sekolah Ahza, tapi masih terngiang-nginag permintaan sederhana Ahza, “Ahza mau kalau SMP nanti bisa bersepeda kesekolah, terus masih bisa bebas menggambar”. intinya Ahza hanya ingin waktu yaaaang banyak tuk berekspresi.

Bismillah ya nak… Allahumma innii astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s