KARTINI, Sebuah Renungan

Kartini

Kartini

Film Kartini berhasil mengobati kekecewaan saya pada  pidato seorang cerdik pandai yang terhormat di lingkungannya mengenai kedudukan seorang perempuan. Beliau menyampaikan bahwa perempuan yang hanya berada di rumah akan  menjadi beban bagi suami bahkan negara.  Bahkan beliau berpendapat sangatlah rugi perempuan yang sudah sekolah tinggi-tinggi namun pada akhirnya kembali ke rumah, beliaupun menghimbau perempuan-perempuan untuk lebih giat berusaha ataupun  berkarir diluar rumah dan seiring sejalan dengan para pria untuk membangun perekonomian bangsa.  Terus terang saya kecewa berat dengan pendapat diatas, Walaupun  Saya memiliki usaha yang didukung penuh oleh keluarga, sehingga bebas mengaktualisasikan diri dan memiliki pendapatan sendiri,  bagi saya pendapat diatas disampaikan oleh orang yang tidak mengerti akan peranan perempuan sesungguhnya.

Awalnya saya berfikir apakah saya salah dengar ataukah saya yang bodoh mengartikan apa yang beliau sampaikan? tapi saya yakin telinga ini masihlah jernih mendengar dan otak sayapun tidak bodoh dalam mencerna kalimat.  Berhubung titel beliau Profesor,  Saya meyakini wawasan beliau harusnya lebih luas dan ilmunyapun  jauh membumbung tinggi.  Tapi jika dikatakan bahwa perempuan yang hanya di rumah saja adalah beban suami bahkan negara dan menyia-nyiakan titel yang telah diraih, baiknya Bapak Profesor perlu banyak belajar dari Kartini asli juga Kartini-kartini masa kini yang membangun peradaban dari rumah. Salahsatunya dengan menonton Film Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo ini.

Dengan sangat apik dikisahkan perjalanan kehidupan Kartini dari kecil hingga menikah. Didukung oleh pemain-pemain kawakan jaminan mutu perfilman Indonesia, Siapa yang tak mengenal Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Acha Septriasa, Christine Hakim, Djenar Maesa Ayu, Dedi Soetomo, bahkan Reza Rahardian si penguasa layar lebar Indonesia-pun main, walaupun dengan porsi kecil tapi efeknya sangat luar biasa. Scene pendek nan cetar Reza Rahardian yang mengubah kehidupan Kartini. Dian Sastro sebagai pemain utama disini berhasil diimbangi oleh pelakon kawakan lainnya, tidak ada yang dominan disini. Hanung Bramantyo sangat piawai membawa peran  kecil namun efeknya terasa sampai akhir cerita.

Banyak sisi lain yang disampaikan dalam film ini, Kartini membangun dan mewujudkan semua impiannya dari rumah, bahkan dari kamar sempitnya. Kekuatan membaca dan menulis adalah senjata utama Kartini dan adik-adiknya membuka jendela dunia. Fasilitas yang diberikan sang Ayah yang memiliki kekuasaan tinggi di Jepara memuluskan langkah mereka. Dari segi perekonomian, di film inipun dituturkan peran Kartini dan adik-adik mengembangkan ukiran jepara sehingga bernilai ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Sampai disini saya kembali terngiang kata-kata si Bapak Profesor, Perempuan seharusnya berkembang di luar rumah dan memanfaatkan ilmu yang mereka dapatkan dengan begitu bisa meningkatkan perekonomian keluarga dan negara.   Bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Ayah Kartini?. Yang diberikan adalah fasilitas yang mempermudah mendapatkan akses untuk berkembang dan menyalurkan ilmu yang dimiliki bukannya menyuruh sering keluar rumah.

Saya bukannya tidak setuju dengan wanita berkarir di luar rumah, itu adalah pilihan. Disini Saya hanya menyampaikan perenungan saya tentang pendapat yang salah bahwa perempuan yang di rumah saja adalah beban suami dan negara. Perempuan adalah makhluk kuat dan serba bisa mampu menjalani peran apa saja dalam keluarga. Kecuali kalau memang orientasi yang mengisi kepala kita adalah adalah materi, kebanggaan dan eksistensi diri, kalau sudah itu alasannya saya nyerah.

Saya sering menemukan kasus istri-istri jauh lebih tabah, kuat, tegar dan cerdas mencari berbagai jalan yang halal untuk menopang kehidupan keluarga disaat sang suami sebagai kepala keluarga tak berdaya menopang ekonomi keluarga, walaupun sbelumnya mereka hanya disibukkan oleh aktivitas harian rumah tangga yang tidak jauh dari dapur, sumur dan kasur. Inilah yang disebut naluri seorang perempuan untuk memberikan segala yang mereka miliki untuk anak dan suami.

Saya banyak mengenal secara langsung dan tidak langsung perempuan-perempuan hebat yang Inspiratif tanpa mereka harus sering berjauhan dari rumah, perempuan-perempuan hebat tersebut mampu membangun perekonomian keluarga dan pendidikan hebat untuk anak-anak dan lingkungan yang lebih luas. Sebut saja salahsatunya Bunda Elly Risman yang bergiat mencerdaskan perempuan dari rumah, efeknya? sangatlah dashyat. Semakin banyak komunitas-komunitas ikut serta menggiatkan membangun Indonesia Hebat dari rumah.

Perjuangan Kartini janganlah dibanding-bandingkan dengan para pahlawan perempuan Indonesia lainnya yang secara langsung berjuang di medan tempur. Kartini hebat di masanya dan beliau diakui sebagai pahlawan dengan caranya berjuang melalui tulisan.

Cut Nyak Dien, Rasuna Said, Malahayati dan banyak pahlawan lainnya juga hebat di masanya dengan cara beliau-beliau masing-masing.    Setiap kita memiliki peran sendiri-sendiri dalam keluarga, lingkungan,  bahkan untuk negara. Sehingga kita juga berhak disebut pahlawan. Tak semua peran harus diakui dunia luar. Yang terpenting adalah menghargai peran diri sendiri dan bisa bermanfaat bagi umat. Seperti kata Buya Hamka

” Umur yang pendek di dunia bisa kita panjangkan dengan amal, sebutan, bekas tangan, iman dan amal shaleh”

Seperti pepatah melayu :

Pulau Pandan jauh di tengah di balik pulau angsa dua,

Hancur badan di kandung tanah, Budi baik dikenang Jua

kartini

Kita kembali ke Film Kartini, Saya menyukai alur ceritanya yang apik, kostum yang pas, pengambilan gambar bagus, jempoool pokoknya. Bikin saya penasaran dengan kehidupan dalam lingkungan bangsawan Jawa.  Tapi yang menjadi catatan saya kali ini adalah, kenapa ya pemain film-film bagus Indonesia bintangnya itu lagii, itu lagi, keren siih hasilnya karena dibintangi artis jaminan mutu tapi saya ingin melihat wajah-wajah baru di layar lebar Indonesia, seperti film Lakar Pelangi atau bahkan Surau dan Silek, semoga muncul generasi baru perfilman Indonesia.

Saya puas dan sukses menangis dari awal hingga akhir, selama di bioskop srat srot srat srot idung saya yang meler karena menahan tangis, tapi jauh lebih berisik sebenarnya tetangga kursi sebelah yang ga berenti makan popcorn dan srat srot srat srot sedotan minumannya… bikin hauuus tauuk.

9 out of 10 untuk KARTINI besutan Hanung Bramantyo… Kereeen pokoknya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s